PKS Kota Solo - Bagian 1

Part 1: Berawal dari Ide Besar dan Mimpi

Bermula dari sebuah pertemuan antara aktivis dakwah soc-med dan aktivis dakwah perfilman, keduanya sepakat dan memiliki Ide besar dan mimpi yang sama; memanfaatkan segala kecanggihan teknologi untuk dakwah, sehingga dakwah ini akan hadir dan mudah dijangkau oleh seluruh kalangan masyarakat. Film Tausiyah Cinta bersumber dari buku yang dikarang oleh tim @tausiyahku yang merupakan salah satu pelopor dalam aktivitas dakwah socmed bersama para admin #AkuCintaIslam lainnya. Memiliki cita-cita yang sama untuk menaikkan film ini ke level selanjutnya, bukan hanya film indie seperti sebelumnya. Hasil pertemuan ini membuahkan sebuah naskah skenario dan juga casting para pemerannya. Namun, pertanyaannya adalah, mau dibuat menjadi FTV, Film Indie, Film d Youtube atau Film Layar lebar kah Tausiyah Cinta ini? Semua geleng-geleng kepala, melihat kondisi kantong masing-masing maupun hasil dari film sebelumnya yang tidak seberapa, semua masih bingung. Awalnya mengandalkan link dan potensi seorang follower yang mengaku akan memfasilitasi mencari sponsor dan investor untuk film ini. Kemudian saya mewanti-wanti untuk berhati-hati terhadap orang tersebut, karena dari gelagatnya dia membantu tidak tulus untuk dakwah, ada hal lain yang diharapkan, karena semua payung hukum ada di bawah dia, sementara tim yang lain betul-betul tidak kuat posisinya jika ada masalah ke depan. Akhirnya semuanya bingung, dan belum menemukan titik temu, sementara semangat yang ada dan dihadirkan oleh para followers yang sudah menantikan film ini sejak casting pertama dibuka adalah agar film ini dapat tayang di bioskop dan disaksikan oleh sebanyak-banyak masyarakat Indonesia.

Part 2: Proses  Persiapan

Setelah berhasil memilih para pemeran lewat proses casting yang dilakukan selama beberapa kali, kemudian proses produksi film Tausiyah Cinta inipun dimulai dengan Coaching para pemeran, kemudian reading skenario oleh para pemeran, berulangkali revisi skenario, dan konsultasi, hunting lokasi, melisting kebutuhan syuting, mengatur jadwal syuting, test cam, pra syuting, persiapan art, dan segala aktivitas yang tidak sedikit dan tidak mudah dalam proses syuting film, keruwetannya ditambahkan dengan kondisi seluruh kru yang terlibat bahkan juga sebagian adalah kru yang memiliki pekerjaan dan aktivitas lain di weekdays, sehingga syuting bisa dilakukan di saat weekend, dengan mengorbankan family time dan kegiatan lainnya di weekend tersebut. Hal tersebut terjadi karena sejak awal kami selalu berkomitmen untuk merekrut cast maupun kru yang betul-betul memahami proses dakwah kreatif yang kami lakukan serta motivasi yang ada untuk bergabung dengan kami adalah motivasi dakwah, bukan motivasi materi.

Part 3: Learning by Doing

Pada akhirnya syuting perdana dilakukan, seluruh pembelajaran dalam proses #Tcmenujulayarlebar ini dilakukan dengan metode learning by doing dan berkonsultasi dengan para ahli, diantaranya ada Mas Indra Yogiswara (Komunitas DSLR Indonesia/Zanetta), Mas Yudi Datau (DoP 5 Cm), Irwansyah (Produser dan aktor), M Yulius (Penulis Naskah), Mas Jerry (Dosen IKJ dan Produksi TVRI), Arief Sudiro, Pak Badrian, Rijal (Inframe dan Picatrix Studio), Ust Hilman Rosyad, dan banyak ahli lainnya. Secara teknispun kami selalu mengikuti arahan dari mereka, dari mulai penggunaan kamera dan lensa, lighting, sound, dan segala peralatan lainnya, sampai alur cerita, penulisan naskah, dramatisasi, pendalaman karakter, kemudian segala yang dibutuhkan dan proses bagaimana sebuah film bisa tampil di bioskop dan sebagainya. Pada tahap ini kami banyak sekali menyerap ilmu yang mereka miliki walaupun masih jauh sekali untuk bisa menjadi profesional seperti halnya PH2 besar yang sudah puluhan tahun berkecimpung di dunia ini.

Go to top