PKS Kota Solo - Bagian 2

Part 4: Perjalanan Syuting
Dalam perjalanannya syuting di weekend ini tidak semudah yang kita kira; ditambah jadwal para cast dan kru yang padat yang membuat sulit sekali mencari momentum yang pas untuk bisa mengambil gambar secara bersamaan sesuai dengan yang diharapkan. Bayangkan hal itu dikalikan dengan kompleksitas permasalahan yang dimiliki oleh para cast yang diuji dengan problemnya masing-masing dan juga keuangan yang kembang-kempis dikarenakan sangat bergantung pada sponsor dan investor yang datang satu- satu. Seringkali syuting pada akhirnya dipending selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Tidak sampai di situ, permasalahan ini juga juga kemudian menghadirkan permasalahan-permasalahan yang lainnya; continiti wardrobe maupun tampilan cast, management data, sewa alat yang lebih mahal, ketersediaan lokasi, peralatan, dan sebagainya.
Namun, kami selalu yakin bahwa Allah SWT akan senantiasa memberikan jalan bagi hambanya yang bersungguh-sungguh dalam bekerja dan berdoa, apalagi jika hal tersebut dilakukan untuk memperjuangkan syariatNya. Dalam perjalanannya pula Allah SWT selalu menurunkan pertolongan di saat yang tepat, walaupun pada awalnya selalu diberikan ujian terlebih dahulu. Memang dakwah ini laksana jalanan yang terjal yang tidak mudah ditempuh kecuali oleh orang yang senantiasa sabar dan menguatkan kesabaran, itu yang selalu kami yakini.


Part 5: Post Produksi
Dengan segala kompleksitas permasalahan yang ada, akhirnya syutingpun selesai dilakukan bersamaan dengan promo dan roadshow yang terus digencarkan. Tiba masanya untuk memikirkan post produksi dan bagaimana agar film ini dapat tayang di bioskop. Untuk Postpro sendiri, masih banyak proses yang terus dilakukan, sejak mulai editing, OST, scoring, mixing, coloring, grading, DCP dan sebagainya. Dalam proses syuting maupun post produksi, kami seringkali harus bergadang semalaman padahal keesokan paginya harus kembali lagi bekerja di tempat masing-masing. Setiap ahli dalam partnya pun terus berdatangan dan memiliki komitmen yang sama untuk dakwah. Part editing misalnya, tiba-tiba saja ada seorang editor yang sudah bekerja lama di beberapa PH dan TV swasta yang ingin ikut bergabung dalam barisan dakwah ini, dalam prosesnya pun dia menjaga wudhu dan ruhiyahnya agar selain tidak Kabura Maqtan, tapi juga film ini memiliki ruh yang dapat dirasakan oleh para penontonnya. Saya sendiripun turut menyaksikan dan menemani dalam setiap prosesnya.
Proses postpro terus berjalan bersamaan dengan segala persiapan untuk masuk ke bioskop, berbagai penolakan pada awalnya pun kami terima dan nikmati sebagai sebuah proses hingga kami menetapkan bahwa tanggal 5 Desember 2015 akan menjadi premiere film Tausiyah Cinta, dengan cara reguler ataupun tidak. Tapi waktu tersisa hanya tinggal 1 bulan sebelum penayangan perdana ini, segala proses editing, dan preview para ahlipun dilakukan untuk dapat picklock dr hasil editor, preview dilakukan oleh Aditya Gumay (Sutradara dan pemilik sanggar), tim Picatrix, dan para dosen dan alumni IKJ serta sutradara Zak Sorga. Pada proses in kami juga banyak sekali belajar tentang post pro, dan segala yang dibutuhkan, hasil editingpun harus kembali diacak-acak dan ada beberapa syuting tambahan yang dilakukan. Lalu setelah pictlock, masih ada scoring, coloring, grading, mixing,harus dikejar dalam waktu bersamaan, dengan deadline 2 minggu dari waktu yang ditentukan serta 1 minggu untuk pembuatan DCP, benar-benar waktu yang sangat terbatas. Atas pertolongan Allah kemudian kerja keras dari masing-masing PJ dan team, pada akhirnya kami mampu menyelesaikannya dan bisa preview di bioskop sebelum penayangan perdana. Preview di bioskop untuk pertamakalinya ini membuat saya menitikkan air mata, menyadari dan menyimpulkan, masih banyak yang harus diperbaiki dalam segi teknisnya, terutama dalam hal audio, banyak sekali dialog dan musik yang masih kurang balance, ada juga beberapa teknis gambar yang perlu diperbaiki dengan syuting ulang dan pembuatan ulang DCP, tapi kami rasa dengan waktu yang hanya tinggal 2 hari sebelum tayang perdana ini hampir tidak mungkin kami lakukan. Kami memutuskan untuk memperbaiki audionya saja, karena saya akui secara audio masih sangat parah sekali dan banyak yang harus diperbaiki, hingga malam itu saya tidak tidur karena harus memastikan balancing antara dialog dan musik hingga sore harinya, batas waktu terakhir untuk diserahkan kembali untuk menjadi DCP.


Part 6: Selalu Berusaha untuk Bekerja Lebih Baik dengan Tetap Mempertahankan Orisinalitas
Dengan pertolongan Allah sehari sebelum tayang kami melakukan preview kembali, dan hasilnya alhamdulillah jauh lebih baik dari sebelumnya, feel dan ruh film ini sangat terasa, hingga kamipun juga menitikkan air mata. Sejak awal, kami memiliki filosofi yang sama untuk film ini, filosofi lontong, lebih memperhatikan isi dibandingkan kemasan, kami berupaya agar inspirasi-inspirasi dan daklwah yang kami tuangkan masuk ke dalam hati para penontonnya, dibandingkan menyajikan penonton akan sebuah dramatisasi cerita maupun keindahan gambar ataupun lagu. Kami menyadari banyak sekali teknis audio maupun gambar yang tidak sebagus film-film lainnya, itupun kami berupaya untuk memperbaiki jika kami diberikan kesempatan untuk tayang secara reguler nanti, namun Allah berkehendak lain, kami hanya diberikan kesempatan selama 8 hari untuk persiapan tayang di reguler, padahal banyak sekali energi dan persiapan yang harus kami lakukan sebelum tayang, sehingga tidak memungkinkan untuk merevisi yang sudah ada.
Kami juga sadar sepenuhnya bahwa dakwah lewat film ini merupakan perjalanan yang panjang, penuh dengan lika-liku dan bebatuan terjal, kami juga selalu berusaha untuk memperbaiki kwalitas dari karya kami ini untuk ke depannya agar lebih baik lagi dan dapat dinikmati oleh semua kalangan. Tapi kami juga akan terus berupaya untuk menjaga orisinalitas dari tujuan kami berdakwah melalui film ini dan menjaga setiap scene dan prosesnya agar tetap syari, walaupun itu akan seringkali bertolak belakang dengan kaidah mainstream yang ada. Tentu saja kami akan lebih mendahului orisinalitas dakwah dibandingkan harus mengikuti kaidah mainstream yang ada. Sejak awal, kami tidak akan pernah takut dan gentar menghadapi segala cacian, makian dan cercaan orang yang mencerca, karena memang begitulah sunnatullah dakwah.
Wallahul Muwaffaq ila Aqwamit Thariq.
Al faqir ilallah
Izharul Haq, Lc
Executive Produser Film Tausiyah Cinta

Go to top