PKS Kota Solo - Meski pesantren tersebut dimiliki dan dikelola oleh sang ayah, bukan berarti Kharis kecil bisa belajar seenaknya. Menjadi putra seorang pemilik ponpes, ia justru diwajibkan mengaji dengan porsi dobel dengan santri-santri lain.

“Jadi jangan dikira kalau anak kyai itu pintar karena dapat ilmu turunan atau lainnya. Justru anak kyai terlihat pintar dari santri lain karena ngajinya lebih banyak dari anak-anak lain. Di pesantren ngaji dan sampai rumah juga masih disuruh ngaji lagi,” beber Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu.

Abdul Kharis sendiri ditarget oleh sang ayah untuk mengaji minimal satu juz setiap hari. Biasanya dilakukan tiap usai sholat. Tapi, jika dia bisa khatam lebih dari satu kali selama Ramadhan, ada hadiah menanti saat lebaran.

“Orang tua akan menghadiahi saung. Berbeda dengan sarung yang biasa dipakai setiap hari. Sarungnya lebih bagus. Bahkan kadang bisa dapat dua,” urai pria kelahiran 25 Agustus 1968 tersebut.

Terbiasa Sholat di Masjid sampai sekarang

Hingga kini, pola pendidikan di pesantren yang penuh disiplin masih terpatri dalam kehidupan pria yang saat ini menjabat Ketua Komisi I DPR RI ini. Bahkan, sampai sekarang Abdul Kharis masih terbiasa melaksanaka sholat lima waktu di masjid.

“Kalau orang lain yang memiliki kesibukan, kadang sholatnya di rumah atau sendiri. Tapi sampai sekarang saya masih terbiasa sholat jamaah di masjid. Kedisplinan inilah yang sampai sekarang masih tersisa,” tandas Abdul Kharis Almasyhari.

Dimuat dalam Rubrik Ramadhan Jawapos Radar Solo, Rabu (07062017)

Go to top