PKS Kota Solo - Baru pada tahun 2002, cita-cita Ghofar untuk mondok akhirnya terwujud, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) berkerja sama dengan Kerajaan Saudi Arabia mendirikan pondok khusus bahasa Arab. Yakni, Ma’had Lughoh Abu Bakar Asy Shidiq yang berlokasi di kompleks kampus UMS.

Kala itu, Ghofar sudah berstatus ayah dari tiga anak dan bekerja sebagai guru di SMA AlIslam. Alhasil, ia harus  pandai pandai mengatur waktu antara bekerja dan mondok. Rupanya, niat untuk mondok tak sedikit pun sirna. Bahkan, Ghofar menyelesaikan studinya di pondok tersebut selama 1,5 tahun. Lebih cepat dari waktu yang ditentukan, dua tahun.

(Baca juga : Keinginan Masuk Pondok Sering Gagal, Kuncinya Man Jadda Wajada (Bagian 1))

“Waktu itu baru berdiri angkatan kedua. Di sana, selain ada kelas, juga ada tempat untuk menginap. Dulu jumlah tempat untuk mondok masih sedikit. Dan pendaftar dari luar kota lebih banyak. Akhirnya diprioritaskan yang dari luar kota. Saya tidak nginap disana,” kata Ghofar.

Namun, hal tersebut tidak jadi masalah bagi Ghofar. Sebab, niatnya mendalami agama di pondok sudah terwujud. Ditambah lagi pengantar bahasa dan materi di Abu Bakar menggunakan bahasa Arab. Mulai dari materi wawasan keislaman, tata bahasa, seni sastra Arab, syariah, akhlak dan akidah disampaikan dengan bahasa Arab.

“Dosen didatangan langsung dari Sudan dan Syria. Jadi percakapan sehari hari benar-benar pakai Bahasa Arab,” ujar Ketua DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Solo ini.

Bertemu dengan dosen dari luar negeri, Ghofar merasa betapa ia dididik untuk giat belajar dan disiplin. Ghofar berkisah, ia pernah hampir tidak bisa ikut ujian lantaran pernah telat lima menit karena waktu tempuh dari tempatnya mengajar ke pondok butuh waktu yang cukup lama.

“Saya ngomong ke ustad, kalau saya jangan dinilai malas hanya karena terlambat lima menit. Alhamdulillah ustadnya mau mengerti dan akhirnya tetap bisa ikut ujian,” sambung Ghofar.

Nilai-nilai kedisiplinan itulah yang dipegang Ghofar sampai sekarang menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Kota Solo. Ia banyak belajar tentang cara memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Selain bertemu dengan dosen super disiplin, disana Ghofar juga banyak bertemu santri yang berasal dari luar kota. Ia melihat, teman-temannya yang notabene lebih jauh mampu membagi waktu dengan luar biasa.

“Ada yang laju dari Boyolali. Dari situ saya yakin, kunci suksesnya adalah man jadda wajada. Kalau bersungguh-sungguh pasti dapat yang terbaik. Berusaha semaksimal mungkin, hasilnya serahkan pada Allah,” tandas Ghofar.

Dimuat di Harian Jawapos Radar Solo kolom Santri Sukses, Senin 29 Mei 2017.

Go to top